Jumat, Juli 4

Tantangan Pendidikan bagi Anak dan Remaja Khusus: Ketersediaan Lembaga Pendidikan yang Bermutu Bagi ABK

Berbicara kata tantangan, hal ini mengindikasikan bahwa di situ ada suatu gaya atau arah menuju ke suatu tujuan dimana di situ ditemukan banyak hambatan yang harus dicapai. Kembali ke dalam konteks judul diatas. Ada apa dengan anak dan remaja khusus? Siapakah anak dan remaja khusus? Mengapa mereka memerlukan pendidikan? Dan tantangan apa yang akan mereka temui dalam perjalanan di dunia pendidikan. Hal tersebut akan dibahas secara singkat dalam penjelasan di bawah ini. Indah Winarso dalam Chatib (2011), seorang wartawan menuliskan temuanya tentang anak autisme yang dimuat pada situs Kabari News 3 Januari 2011 bahwa sejumlah anak yang menderita Autis di daerah Bogor, Tangerang dan Blitar di siksa dan dipasung oleh keluarga mereka. Demikian mirisnya kadaan anak anak yang menurut orang tua mereka dikatakan “tidak normal”. Itulah gambaran dari sekian banyak keadaan sejumlah anak yang berkebutuhan khusus. Anak dan remaja khusus adalah mereka anak anak yang tergolong cacat atau yang menyandang ketunaan dan juga anak potensial dan berbakat (Mulyono, 2003: 26). Anak anak yang tidak seperti kebanyakan anak anak. Istilah berkebutuhan khusus bukan berarti hendak menggantikan anak penyandang cacat atau anak luar biasa , melainkan memiliki pandangan yang lebih luas dan positif bagi anak anak dengan keberagaman berbeda (Sunanto dalam Ilahi, 2013: 137). Keberagaman yang berbeda menyebaban perbedaan kebutuhan . Disinilah kenapa anak berkebutuhan khusus (ABK) memerlukan pendidikan, tidak lain ditujukan untuk membantu mengembangkan diri mereka sesuai kecerdasan yang dimiliki.Selain itu pula, tidak ada anak yang bodoh dan tidak bisa belajar. Hal ini juga berlaku pada ABK. Mereka juga bisa tumbuh dan berkembang bergantung dari bagaimana lingkungan memberikan stimulus dan kesempatan yang tepat untuk melakukan discovering ability terhadap anak anak tersebut (Chatib, 2011: 3). Semua tidak lain diarahkan kepada sebuah tujuan yaitu Education for All(EFA). Dari tiga fase perkembangan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus (Chatib, 2011: 19), sekarang ini adalah fase pemberian pendidikan bagi ABK. Fase pendidikan terbagi menjadi dua model besar yaitu sekolah luar biasa dan sekolah inklusi. Faktanya,dari data resmi Direktorat PSLB tahun 2008 menyebutkan bahwa jumlah anak berkeutuhan khusus yang telah mengikuti pendidikan formal baru mencapai 24,7% atau 78,689 anak dari populasi anak cacat di Indonesia yaitu 318.600 (Ilahi, 2013:55). Hal ini berarti masih terdapat 65,3% anak berkebutuhan khusus yang masih termarginalkan. Jumlah lembaga pendidikan yang diharapkan untuk mendidik mereka masih belum sesuai dengan jumlah anak berkebutuhan khusus. Walaupun di akhir tahun 1990-an telah muncul konsep pendidikan baru bagi anak berkebutuhan khusus yaitu sekolah inklusi. Sekolah inklusi muncul ketika sistem pendidikan segregrasi kurang mampu memberikan perubahan bagi anak anak berkebutuhan khusus (Ilahi, 2013: 30). Namun, dalam pengaplikasiannya masih belum maksimal dan banyak permasalahan diantaranya jumlah sekolah inklusi masih sedikit ,pada tahun 2007 jumlah sekolah inklusi 796 sekolah sedangkan jumlah ABK 15.181(Arifin, 2012). Selanjutnya, Jalur penerimaan peserta didik baru (PPDB) inklusi minim informasi (Dispendiksidoarjo,2013). Orang tua ABK masih belum mendapatkan informasi untuk mengakses jalur pendidikan bagi anak anak mereka. Dari artikel di media elektronik ,Syarifah(2014) menuliskan bahwa masih banya anak difabel di indonesia belum mendapatkan akses pendidikan dasar, sebagai contoh di Rembang jumlah ABk menacapai 1.194 anak, tetapi yang tertampung di sekolah dasar yang menerapkan pendidikan inklusi hanya 439 anak Belum seimbangnya jumlah lembaga pendidikan semakin miris ketika ditambah lagi dengan minimya mutu dari lembaga pendidikan yang sudah ada. Seperti ,Pemahaman masyarakat terhadap konsep sekolah inklusi yang minim, sementara dalam implementasinya, guru cenderung belum mampu bersikap proactive dan ramah terhadap semua anak, menimbulkan komplain orang tua dan menjadidikan anak cacat sebagai bahan olok olokan (Ilahi, 2013:63). Selain itu Ilahi juga menambahkan , kebijakan sekolah yang berada di sekolah inklusi masih kurang tepat,yaitu guru kelas yang tidak memiliki tanggung jawab pada kemajuan belajar ABK serta keharusan orang tua ABK dalam penyediaan guru kelas. Proses pembelajaran di kelas inklusi juga masih sering berupa irisan dari sekolah integrasi. Kondisi guru yangmenyangkut komitmen dan kualitas dalam pengajaran juga masih dipertanyakan dan belum memadai(Rudiyati,2011:17). Dan yang terakhir adalah support system , hal ini berhubungan dengan kebijakan pemerintah dalam mengembangkan pendidikan bagi ABK. Peran pemerintah disini berperan dalam mengawasi pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang menempatkan anak berkebutuhan khusus di lembaga pendidikan yang memiliki predikat sekolah inklusi(Ilahi, 2013:66). Faktanya, pemerintah masih kurang perhatian dan kurang proaktif terhadap permaslahan di lapangan seperti kurangnya pelatihan untuk peningkatan kualitas guru secara merata (Ilahi, 2013:67), rendahnya komitmen dan kemampuan para praktisi dalam mengambil kebijakan serta dana pendidikan yang masih minim dan terlalu banyak dikorupsi(arifin, 2012). Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa tantangan pendidikan untuk ABK cukup sistemik, ketersediaan lembaga pendidikan serta mutu yang menunjang lembaga pendidikan tersebut masih belum stabil. Kedepannya, diharapkan pemerintah lebih gencar dalam mengontrol ketersediaan lembaga pendidikan dan mutunya. Untuk masyarakat dan praktisi pendidikan juga tidak menutup kemungkinan untuk urun tangan membantu ABK sesuai dengan bidangnya masing masing, diantaranya bisa dengan mendirikan komunitas pemerhati ABK, menyediakan perpus mini di masyarakat tentang buku buku ABK, mewacanakan tentang ABK ke keluarga dan lain lain. Langkah besar untuk sebuah perbaikan dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Sebagai penutup “ Setiap anak itu unik, tujuan utama setiap pendidikan dan pengajaran adalah kita mendidik mereka dengan segala kekurangan dan segala potensinya yang ada. Sehingga potensi ini dapat kita kembangkan untuk kebaikan secara lebih maksimal (Jean Soto). Referensi Arifin. 2012. Pendidikan Inklusif di Indonesia:Akar masalah dan Solusinya. http://arifin-meaningoflife.blogspot.com diunduh pada tanggal 1 Juli 2014 Chatib, Munif. 2011. Sekolah Anak anak Juara. Jakarta: Kaifa Learning Dispendik Sidoarjo. 2013. PPDB jalur inklusi minim informasi,.http://dprd-sidoarjokab.go.id/ppdb-jalur-inklusi-minim-informasi.diunduh pada tanggal 1 Juli 2014 Ilahi , Muhammad Takdir. 2013. Pendidikan inklusif:Konsep dan Aplikasi. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media Rudiyati, Sari. 2011. Potret Sekolah Inklusif di Indonesia:Memilih Sekolah yang tepat bagi anak berkebutuhan khusus. Makalah seminar umum Pertemuan Nasional Asosiasi Kesehatan Jiwa dan Remaja 2011. Yogyakarta. Syarifah, Fitri.2014. Masih Banyak Anak Difabel Indonesia Tak Sekolah. http://m. Liputan6.com/health/read/812756/masih banyak anak difabel Indonesia Tak Sekolah di unduh pada tanggal 1 Juli 2014.

Rabu, Juli 2

Review Buku “Amamzing Fay “Oleh Tian Arief dan Efin Fintiana

“Kekecewaan, kesedihan dan rasa malu dirasakan, belum lagi menghabiskan tenaga dan materi yang sangat besar, tapi dengan cintakasih, kesabaran dan rasa sayang yang luar biasa, semuanya menjadi mungkin” Begitulah sekilas pesan yang disampaikan oleh orang tua Fairus Khairunnisa (Fay). Buku Amamzing Fay , sebuah buku yang terdiri dari 110 halaman, diterbitkan pada tahun 2013 di Jakarta, merupakan sebuah buku yang berisi diari yang menceritakan tentang perjuangan seorang Ibu Efin Fintiana dan Ayah Tian Arief dalam membesarkan anak penyandang autis yaitu Fairuz Khairunnisa atau disapa dengan Fay. Fay dilahirkan secara caesar. Sejak lahir ibu Fay sudah melihat tanda tanda yang ganjil pada fay seperti mata fay yang tidak memandang ke arah ibunya dan ketika dipanggil tidak merespon seperti bayi pada umumnya. Pada usia 2 tahun , fay diperiksakan kepada seorang dokter Ahli Psikiatri Anak di bagian tumbuh kembang anak RSCM, dari pemeriksaan tersebut diperoleh informasi bahwa Fay menyandang sindrom autis yaitu suatu kondisi seoang anak sejak lahir maupun balita yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Ditandai dengan hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain. Dokter menyarankan ke orang tua Fay untu tidak terjebak menelusuri sebabnya namun berkonsentrasilah untuk megupayakan bagaimana mengatasinya. Dari pemeriksaan tersebut berbagai usaha dilakukan oleh orang tua Fay diantaranya, yang pertama mengkonsultasikan Fay pada dokter Ika terapi Psikologi anak. Fay diajarkan untuk duduk diam selama mungkin. Fay diterapi dengan menggunakan metode ABA atau Lovaas. Di Usia menginjak sekolah, orang tua Fay memasukan Fay disekolah inklusi dimana pembayaran sekolah lebih mahal, namun harus dipilih oleh orang tua Fay untuk membantu Fay belajar dengan optimal. Sejak usia balita Fay diajarkan sepatah dua patah kata seperti “ayah “ dan “ibu” , karena sebagai dua oang yang sehari hari dekat dengan Fay. Untuk membantu Fay mengenal benda benda orang tua Fay membuat kartu kartu bergambar dengan tulisan dibawahnya. Sesekali Fay juga diajak untuk mengunjugi kebun binatang Ragunan untuk membantu perebendaharaan katanya dan melihat hewan hewan yang tidk dijumpai disekitar lingkungannya. Untuk belajar membaca Fay diterapi oleh Bu dian dengan belajar membaca tidak dengan mengeja. Fay dibalik kekurangannya memiliki banyak kelebihan, ketika usia balita Fay pun bisa membacakata yang ditulis dalam huruf kapital juga huruf campuran, terlebih lagi fay bisa membaca tulisan tangan berupa huruf sambung. DI seitar usia 3 tahunan , Fay juga mampu berhitung 1 sampai 10 lalu menghitung balik 10-1. Keajaiban ini yang mendorong ayah Fayuntuk membuat blog dan facebook dengan alamat “ amazing Fay”. Hal ini dimaksudkan untuk berbagi informasi dan pengalaman dengan orang tua yang mempunyai anak penyandang autis, bahwa anak anak dengan autis memiliki kelebihan juga. Keluarga Fay seorang muslim, ibu Fay memperkenalkan konsep berpuasa di bulan Ramadhan kepada Fay, yaitu dengan cara Fay tidak ditawari makan dan minum, Fay baru akan diberikan ketika dia benar benar memintanya. Fay dilatih berpuasa sesuai dengan kesanggupannya, mulai dari puasa dzuhur kemudian ashar. Proses belajar berpuasa tidak terjadi secara tuntas dalam satu bulan, namun Fay sudah mau belajar berpuasa mulai kelas 1 SD. Pada kelas 6 SD Fay berhasil berpuasa sebulan penuh sampai magrib. Hal yang dilakukan keluarga ketika fay menjelang remaja diantaranya; Atas saran dari dokter terapi Fay, Ibunda Fay diminta untuk memakaikan pada Fay diaper dewasa. Hal ini dimaksudkan agar Fay tetap nyaman dalam menyesuaikan perubahan dirinya ketika mengalami menstruasi. Ibunda Fay tidak memakaikan diaper namun memakaikan pembalut secara berkala pada Fay sejak usia 8 tahun. Jadi, ketika Fay sudah menstruasi pada usia 12 tahun, Fay sudah terbiasa dan juga bisa membersikan sendiri dengan bersih. Keluarga memberikan Fay sebuah komputer untuk membantu Fay belajar. Dari komputer tersebut Fay terlihat cukup mahir dalam menggunakannya. Fay tidak merasa takut untuk menggunakan gadget. Dari komputer, Fay bisa menemukan game game baru yang sulit dan mudah untuk menguasainya.Terlebih lagi, Fay bisa mengoperasikan beberapa aplikasi dengan baik. Fay juga diberikan ipod yang ada kameranya. Dokter menjelaskan bahwa anak dengan autis senang dengan segala sesuatu yang berderet rapi. Ketika Fay mempunyai ipod, hal itu membantu fay untuk belajar, dia memiliki hobi baru yaitu memotret bungkus rokok. Untuk membantu Fay belajar huruf hijaiyah Ayah Fay memberikan balok kayu bertuliskan huruf hijaiyah. Dikarenakan ketika memakai buku IQRA Fay membaca halaman tidak sesuai urutan, namun sesuai yang dia sukai. Ayah Fay mengajari Fay membaca secara teratur. Meskipun ada satu sampai dua huruf yang belum dikuasai, Fay tetap belajar IQRA dengan serius. Pada anak penyandang autis, khususnya pada fay, Fay belajar hal hal sehari hari dari apa yang dia lihat dari ibunya dan apa apa yang ibunya lakukan ke pada Fay, seperti ketika Fay terluka, Fay bisa membalut lukanya seperti yang ibu nya lakukan ketika Fay terkena luka bakar. Ayah Fay bergabung dengan Yayasan Autisma Indonesia. Orang tua Fay mengajak Fay dan memperkenalkan Fay pada komunitas tersebut. Kedua orang tua Fay berharap komunitas tersebut bisa dijadikan tempat bagi fay untuk membangun rasa percaya dirinya dan berinteraksi dengan banyak orang. Fay mengalami selera makan yang tidak stabil,untuk mengatasi hal tersebut, sesuai dengan saran dokter terapi Fay, Ibunda Fay memberikan makan kepada Fay setiap 4 jam sekali, setelahnya tidak ada snack atau apapun. Dimakan atau tidak, habis atau tidak ketika durasi makan sudah satu jam piring dan makanan lain dibersihkan. Fay masih sulit untuk mengunyah nasi, jadi untuk membantu Fay, ibunda Fay memblender semua makanan Fay sampai usia Fay 4 tahun. Untuk menanamkan konsep menjaga aurat dan menanamkan rasa malu pada Fay ibunda Fay berungkali menekankan bahwa kalau fay membuka pakaian harus dilakukan dikamar mandi yang pntunya tertutup. Karena pernah kejadian, fay berenang telanjang ketika usia SMP di kolam renang umum. Fay suka sekali membuang barang, baik yang dikenakan olehya atau dipakai oleh ayah atau ibunya. Fay sering membuang sepatu ketika dibonceng, buku, helm atau sapu tangan ayahnya. Untuk mengatasi hal ini ibunda fay mencoba melatih fay agar bisa menjaga barang miliknya. Ketika benda itu dibuang tidak langsung diganti atau diberikan yang baru. Sampai beberapa tahun “ritual” membuang barang masih sering dilakukan. Hal itu memang tidak bisa hilang, namun dari keluarga meminimalisir seminim minimnya. Hal yang sangat ditekankan oleh kedua orang tua Fay adalah orang tua besama sama berkomitmen melakukan waskat(pengawasan melekat) pada Fay, dikarenakan Fay sempay hilang beberapa kali dari pengawasan dan diketemukan. Setelahnya, Orang tua juga memberikan pemahaman kepada tetangga mengenai kondisiFay. Jadi, ketika mereka melihat Fay berjalan sendirian bisa segera dilaporkan atau ditahan.