Rabu, Juli 2

Review Buku “Amamzing Fay “Oleh Tian Arief dan Efin Fintiana

“Kekecewaan, kesedihan dan rasa malu dirasakan, belum lagi menghabiskan tenaga dan materi yang sangat besar, tapi dengan cintakasih, kesabaran dan rasa sayang yang luar biasa, semuanya menjadi mungkin” Begitulah sekilas pesan yang disampaikan oleh orang tua Fairus Khairunnisa (Fay). Buku Amamzing Fay , sebuah buku yang terdiri dari 110 halaman, diterbitkan pada tahun 2013 di Jakarta, merupakan sebuah buku yang berisi diari yang menceritakan tentang perjuangan seorang Ibu Efin Fintiana dan Ayah Tian Arief dalam membesarkan anak penyandang autis yaitu Fairuz Khairunnisa atau disapa dengan Fay. Fay dilahirkan secara caesar. Sejak lahir ibu Fay sudah melihat tanda tanda yang ganjil pada fay seperti mata fay yang tidak memandang ke arah ibunya dan ketika dipanggil tidak merespon seperti bayi pada umumnya. Pada usia 2 tahun , fay diperiksakan kepada seorang dokter Ahli Psikiatri Anak di bagian tumbuh kembang anak RSCM, dari pemeriksaan tersebut diperoleh informasi bahwa Fay menyandang sindrom autis yaitu suatu kondisi seoang anak sejak lahir maupun balita yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Ditandai dengan hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan kemampuan bermain. Dokter menyarankan ke orang tua Fay untu tidak terjebak menelusuri sebabnya namun berkonsentrasilah untuk megupayakan bagaimana mengatasinya. Dari pemeriksaan tersebut berbagai usaha dilakukan oleh orang tua Fay diantaranya, yang pertama mengkonsultasikan Fay pada dokter Ika terapi Psikologi anak. Fay diajarkan untuk duduk diam selama mungkin. Fay diterapi dengan menggunakan metode ABA atau Lovaas. Di Usia menginjak sekolah, orang tua Fay memasukan Fay disekolah inklusi dimana pembayaran sekolah lebih mahal, namun harus dipilih oleh orang tua Fay untuk membantu Fay belajar dengan optimal. Sejak usia balita Fay diajarkan sepatah dua patah kata seperti “ayah “ dan “ibu” , karena sebagai dua oang yang sehari hari dekat dengan Fay. Untuk membantu Fay mengenal benda benda orang tua Fay membuat kartu kartu bergambar dengan tulisan dibawahnya. Sesekali Fay juga diajak untuk mengunjugi kebun binatang Ragunan untuk membantu perebendaharaan katanya dan melihat hewan hewan yang tidk dijumpai disekitar lingkungannya. Untuk belajar membaca Fay diterapi oleh Bu dian dengan belajar membaca tidak dengan mengeja. Fay dibalik kekurangannya memiliki banyak kelebihan, ketika usia balita Fay pun bisa membacakata yang ditulis dalam huruf kapital juga huruf campuran, terlebih lagi fay bisa membaca tulisan tangan berupa huruf sambung. DI seitar usia 3 tahunan , Fay juga mampu berhitung 1 sampai 10 lalu menghitung balik 10-1. Keajaiban ini yang mendorong ayah Fayuntuk membuat blog dan facebook dengan alamat “ amazing Fay”. Hal ini dimaksudkan untuk berbagi informasi dan pengalaman dengan orang tua yang mempunyai anak penyandang autis, bahwa anak anak dengan autis memiliki kelebihan juga. Keluarga Fay seorang muslim, ibu Fay memperkenalkan konsep berpuasa di bulan Ramadhan kepada Fay, yaitu dengan cara Fay tidak ditawari makan dan minum, Fay baru akan diberikan ketika dia benar benar memintanya. Fay dilatih berpuasa sesuai dengan kesanggupannya, mulai dari puasa dzuhur kemudian ashar. Proses belajar berpuasa tidak terjadi secara tuntas dalam satu bulan, namun Fay sudah mau belajar berpuasa mulai kelas 1 SD. Pada kelas 6 SD Fay berhasil berpuasa sebulan penuh sampai magrib. Hal yang dilakukan keluarga ketika fay menjelang remaja diantaranya; Atas saran dari dokter terapi Fay, Ibunda Fay diminta untuk memakaikan pada Fay diaper dewasa. Hal ini dimaksudkan agar Fay tetap nyaman dalam menyesuaikan perubahan dirinya ketika mengalami menstruasi. Ibunda Fay tidak memakaikan diaper namun memakaikan pembalut secara berkala pada Fay sejak usia 8 tahun. Jadi, ketika Fay sudah menstruasi pada usia 12 tahun, Fay sudah terbiasa dan juga bisa membersikan sendiri dengan bersih. Keluarga memberikan Fay sebuah komputer untuk membantu Fay belajar. Dari komputer tersebut Fay terlihat cukup mahir dalam menggunakannya. Fay tidak merasa takut untuk menggunakan gadget. Dari komputer, Fay bisa menemukan game game baru yang sulit dan mudah untuk menguasainya.Terlebih lagi, Fay bisa mengoperasikan beberapa aplikasi dengan baik. Fay juga diberikan ipod yang ada kameranya. Dokter menjelaskan bahwa anak dengan autis senang dengan segala sesuatu yang berderet rapi. Ketika Fay mempunyai ipod, hal itu membantu fay untuk belajar, dia memiliki hobi baru yaitu memotret bungkus rokok. Untuk membantu Fay belajar huruf hijaiyah Ayah Fay memberikan balok kayu bertuliskan huruf hijaiyah. Dikarenakan ketika memakai buku IQRA Fay membaca halaman tidak sesuai urutan, namun sesuai yang dia sukai. Ayah Fay mengajari Fay membaca secara teratur. Meskipun ada satu sampai dua huruf yang belum dikuasai, Fay tetap belajar IQRA dengan serius. Pada anak penyandang autis, khususnya pada fay, Fay belajar hal hal sehari hari dari apa yang dia lihat dari ibunya dan apa apa yang ibunya lakukan ke pada Fay, seperti ketika Fay terluka, Fay bisa membalut lukanya seperti yang ibu nya lakukan ketika Fay terkena luka bakar. Ayah Fay bergabung dengan Yayasan Autisma Indonesia. Orang tua Fay mengajak Fay dan memperkenalkan Fay pada komunitas tersebut. Kedua orang tua Fay berharap komunitas tersebut bisa dijadikan tempat bagi fay untuk membangun rasa percaya dirinya dan berinteraksi dengan banyak orang. Fay mengalami selera makan yang tidak stabil,untuk mengatasi hal tersebut, sesuai dengan saran dokter terapi Fay, Ibunda Fay memberikan makan kepada Fay setiap 4 jam sekali, setelahnya tidak ada snack atau apapun. Dimakan atau tidak, habis atau tidak ketika durasi makan sudah satu jam piring dan makanan lain dibersihkan. Fay masih sulit untuk mengunyah nasi, jadi untuk membantu Fay, ibunda Fay memblender semua makanan Fay sampai usia Fay 4 tahun. Untuk menanamkan konsep menjaga aurat dan menanamkan rasa malu pada Fay ibunda Fay berungkali menekankan bahwa kalau fay membuka pakaian harus dilakukan dikamar mandi yang pntunya tertutup. Karena pernah kejadian, fay berenang telanjang ketika usia SMP di kolam renang umum. Fay suka sekali membuang barang, baik yang dikenakan olehya atau dipakai oleh ayah atau ibunya. Fay sering membuang sepatu ketika dibonceng, buku, helm atau sapu tangan ayahnya. Untuk mengatasi hal ini ibunda fay mencoba melatih fay agar bisa menjaga barang miliknya. Ketika benda itu dibuang tidak langsung diganti atau diberikan yang baru. Sampai beberapa tahun “ritual” membuang barang masih sering dilakukan. Hal itu memang tidak bisa hilang, namun dari keluarga meminimalisir seminim minimnya. Hal yang sangat ditekankan oleh kedua orang tua Fay adalah orang tua besama sama berkomitmen melakukan waskat(pengawasan melekat) pada Fay, dikarenakan Fay sempay hilang beberapa kali dari pengawasan dan diketemukan. Setelahnya, Orang tua juga memberikan pemahaman kepada tetangga mengenai kondisiFay. Jadi, ketika mereka melihat Fay berjalan sendirian bisa segera dilaporkan atau ditahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar